Penerapan Teknologi Pendidikan di Indonesia
Diajukan dalam rangka melengkapi tugas kelompok
Mata Kuliah Pengantar Teknologi Pendidikan
Disusun Oleh Kelompok 1
Anggota :
Mega Siska (1100422/2011)
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
A.Penataran guru melalui siaran radio
1.Latar belakang
Untuk melaksanakan tujuan pendidikan di Indonesia ,di temui beberapa hambatan dan masalah ,diantaranya tingginya tingkat kelahiran mengakibatkan terus bertambah usia anak sekolah ,sedagkana angk putus sekolah memeperbesar angka yang belum memperoleh kesempatab pendidikan ,kemudian penye barannya tidak merata ,selanjutnya dilain pihak penyediaan sarana dan gedung belum seperti yang yang di harapkan ,penagdaan buku dan peralatan kurang dari semestinya.
Guru sebagai pemegang peranana utama masih banyak yang belum berkelayakan ,metode pengajaran terlalau menekankan aspek hapalan,kurang dan belum memperhatikan aspek kognitif,psikomotor,dan afektif secraa selars da seimbang.
Masalah-masalah ini makin di persulit oleh adanya pengeksploitasiaan ilmu penegtahuan dan teknoli yang menambah lebar dan dalam jurang pemisah antara negara erkembang dan negara yang sedang membanagun di samping terbatasnya dana dan fasilitas utuk perbaikan dan yang lebih penting lagi perjalanan waktu yang tidak dapat menunggu lagi.
Berbagai alternatif telah di lakukan dan ternyata masih belum mampu mengatasi masalah pendidikan secara tuntas .Salah satu strategi yang tepat adalah dengan melaksanakan inovasi teknologi pendidikan .Penerapannya dalam bentuk pendayagunaan media berupa :penyajian pelajaran dengan menggunakan berbagai media seperti komputer ,radio,televisi,film dan lain-lain.
Dalam usaha untuk meningkatkan mutu dan meratakan kesempatan belajar telah di laksanakn melalui program penataran secar tatap muka untuk guru-guru Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah ,yang diselenggarakn oleh proyek pembinaan pendidikan dasr (P3D) sejak tahun 1979,lalu diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan sekolah dasr (P2SD).Direktorat Pendidikan Dasr.Penataran ini dilakukan oleh Tim Penatar Keliling (TPK ).
Maslah utama yang di hadapi oleh TPK adlah terbatasnya waktu yang di hadapi oleh TPK adlah terbatasnya wajtu dan luasnya materi penataran .Sehingga tidak semaua bahn penataran yang dapat di sampaikan pada kesempatan tatap muka tersebuat.Selain itu ,besarnay jumlah guru yang yang harus ditatar serta karakteristik geografi tanah air kita yang bervarisi di mana bnayak terdapat daerrah terpencil di pedalaman dan di kepualauan yang sulit di jangkau oleh Tim.
Untuk mengatasi masalh tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Dr.Syarif Thayeb) pada tanggal 16 februari 1977 telah mersmikan penataran guru-guru sekolah dasar melalui Siaran Radio Pendidikan (SRP) di sebelas propinsi.Kegiatan ini di selenggaarakan oleh Proyek Pembinaan Teknolgi Komunikasi Pendidikan Dasar (TKPD)
2.Tujuan
a. Tujuan Umum
Secara umum tujuan SRP adlah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan pendidikan ,khususnya pendidikan mutu pendidikan dasra denagn mengintegrasikan penerapan media dan teknolgi komunikasi s secra terncana dan terarah sebgai suatu sub-sistem dalam sistem pendidikan dasr.
b. Tujuan khusus
1. Meningkatkan mutu sikap ,pengetahuan dan kemmpuan profesional guru dan calon Guru Sekolah Dasar (SD) .
2. Memperluas kesemptan memeperoleh pendidikan
3. Memperkaya sumber belajar
4. Melaksanakn berbagai oeneranagan pendidikan
5. Memebantu terciptanaya prinsip belajar seumur hidup dan masyarakat gemar belajar.
3.Sasaran
Sasaran yang diprioritaskan dalam kegiatan TKPD adalah guru-guru dan calon guru SD yang berda di daerah terpencil dan sullit komunikasinya,terutama di sembilan propinsi :Irian Jaya,Maluku,Sulawesi Tengah ,Sulawesi Tenggara ,Kalimantan Timur,Kalimantan Tengah,Kalimantan Barat,ditambah dnegan du adaerah persemaian yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
4.Strategi
Di samping penataran yang dilakukan oleh TKP secra taatp muka ,kepada guru-gur yang berada di sebelas propinsi tersebut di beriakn penatarn dengan menggunakan berbagai media.Program media yang di sediakan oleh TKPD adlah medi aradio yang di lengkapi dengan bahan penyerta siaran berupa bhan cetak bagi guru-guru SD dan program film bingkai suara dan kaset untuk membantu pelaksanaan penataaran sevara tatap muka.
Fungsi bahan penyerta siaran adalah menympaiakn informasi tentang program radio yang akan di siarkan ,memberikan petunjuk tentang persiapan 0persiapan yang perlu dilaksanakn sebelum mendengarkan siaran,selama mendengarkan siran,serta saran kegiatan sebagi tindak lanjut setelah mendengarkan program siaran.
5.Komponen kegiatan
Kegaiatan TKPD memepunyai 5 komponene sub kegiatan ,sbb:
a. PengEmbanagan Program dan Sistem Penyajian .
1. Penyusunana pola dasr kegiatan belajr mengajar (PDKBM) sebaagi kurikulum penataran lewat media
2. Penulisan naskah bahan penyerta siaran (BP)
3. Penulisan naskah siaran
4. Produksi dan pengandaan program siaran
5. Penyebaran (distribusi) BP ke kelompok belaajr dan program siaran ke stasion-stasion pemancar
6. Transmisi (penyiaran)program dari stasion pemancar radio.
7. Pembinaan kelompok belajar
8. Evaluasi
b. Pembentukan jaringan kerja
Mulanya di bentuk satuan kerja di propinsi berupa satuan kerja di propinsi berupa Satuan Tugas Pelaksanaan Teknlogi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Daerah (SPTD) di sebelas propinsi daerah sasaran sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 31 juli 1976. Nomor 0200/P/1976.Pada tahun 1979 menuut Keputusan Menteri Pendididkan dan Kebudayaan Nomor 0145/O/1979 SPTD di jadiakn lembaag stuktural dengan nama Sanggar TKPK ,lalu di sebut Sanggar Tekkom ,di bawah naungan teknis Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudyaan (Pus-Tekkom ) dan secraa taktis operasional sanggar di bina oleh Kantor Wilayah Depdikbud setempat.
c. Latihan Penataran
1. Penaataran bagi anggota TPK-P2SD (untuk sebelas propinsi )dalam rangka penggunaan media radi dan media lain .
2. Penataran bagi Kepala Kantor Depdikbud tingkat Kota Madya /Kabupaten /Kecamatan dan pemilik SD (Untuk sebelas propinsi ),untuk bertugas ebagi feedback officer dan supervisor siaran radio pendididkan.
3. Latihan staf Sanggar Tekkom di sebelas propinsi dalam rangka memberikan kemampuan untk mengelola kegiatan siaran radio pendidikan (meliputi penulisan naskah,pembuatan program lokal,pandayagunaan media ,pengolahan umpan balik dan pembinaan program di wilayahnya masing-masing)
4. Latihan produser dan penulisan naskah siaran dalam rangka pembuatan program nasional.
d. Penyiaran program
Penyiaran program (transmisi )dilakukan oleh 23 stasion pemancar RRI .17 Radio Pemerintah Daerah (RPD) dan 4 radio swawta niaga .Kegiatan penyiaran ini di dasrkan pada kerja sama penyelenggaraan siaran radio pendidikan antara departemen Penerangan dengan Departemen pendidikan dan Kebudayaan .
e. Pengadaan Sarana dan fasilitas
-Ditempat penerimaan baru dapat disediakan sejumlah 6.806 pesawat radio dan radio kaset yang di distribusiakn terutama ke SD yang letaknya di pelosok terpencil dan yang menangkap siaran.Pesawat radio tersebut pengadaanya oleh Pus Tekkom.
-Kepada amsing-masing Sanggar Tekkm di 11 propinsi telah di distribusikan sebelas buah sepeda motor untuk di amnfaatkan dalam kegiatan supervisi dan pengumpulan umpan balik dari kelompok –kelompok belajar dlaam rangak pembuatan program lokal.
Pola Operasional
a.Penyusunan PDKBM (Pola Dasr Kegiatan Belajar Mengajar)
PDKBM merupakan penjabaran dari kurikulum yang berlaku dan silabus penataran taatap muka yang disusun oleh Tim Pengembang Bahan Pelajaran .Tim ini teridri dari tenaga-tenaga ahli mata pelajarn dari IKIP dan guru –guru SD yang sudah berpengalaman .Bidang-bidang studi yang telah didudun PDKBM adlah Pendidikan moral pancasila,Bahasa Indonesia ,Ilmu Pengetahuan Alam,Ilmu Pengetahaun Sosial ,dan tahun 1984/1985 disarkan dua bidang pelajarn baru yait8u agama islam dan pendidikan sejarah perjuanagan bangsa srta Program Komunikasi Kebijakan dan Keguruan.
b.Penulisan naskah bahan penyerta siaran
Bahan penyerta berisi materi program yang disiarkan serta petunjuk-petunjuk tentang kegiatan yang harus dilakukan sebelum,selama dan setelah mendengarkan siaran sebagai tindak lanjut dari program yang disajikan .Setiap akhir program terdapat lembaran evalusi dan kunci jawaban .Naskah bahan penyerta di tulis oleh Tim Penulis Naskah yang terdiri dari dosen-dosen IKIP dan guru-guru SD sesuai dengan bidang pelajran masing-masing.
c.Penulisan Naskah Siaran
Nskah siaran di tulis berdasr PDKBM oleh tenaga –tenaga yanag sudah dilatih untuk itu.Naskah yang ditulis di sesuaikan dengan pengalaman ,selera dan tingkat pengetahuan sasaran .
d.Produksi Program
Produksi program dilaksanakn di Balai Produksi Media Radio (BPMR) di Semarang dan BPMR Yogyakarta .Produksi dilaksnakan oleh tenaga-tenaga terlatih yang bisa mennilai naskah,memilih para pelaku ,penyiar dan menentukan suara atau iraam sebagai sound effect dan latar belakang.Hasil rekaman dalam bentuk mater tape digandakan (direproduksi) menjadi 64 copy setiap program di PN Lokananta.
e.Produksi Bahan Penyerta
Bahan Penyerta di cetak di Jakrta ,di terbitkan 12 edisi dalam setahaun.Selain Bahan Penyerta juga di cetak buku Pedoaman Pemanfaatan (PP) sebagai pedoman bagi anggota kelompok belajar bagaimana mengikuti siaran dengan baik.
f.Distribusi dan Transmisi
Bahan Penyeta tercetak didistribusiakn secara terpusat dari Jakarta ke Sanggar-Sanggar Tekom,untuk daerah tertentu dikirim ke Kantor Depdikbud Kabupaten,selanjutnya di distribusikan ke SD-SD .Kset program yang sudah di produksi juga di distribusiakn dari Jakarta ke Sanggra untuk diteruskan ke stasiun RRI,RPD,dan Radio Swasta Niaga.
g.pemanfaatan Program dan Pembinaan Kelompok Belajar
Selaam siaran berlangsung anggot-anggota kelompok belajr mencatat hal-hal yang penting kemudian mendiskusikannya.Supaya dapat segera mengadakan diskusi setelah emndengarakan siaran,maka pemanfaatan SRP dilakukan dengan berkelompok Kelompok Belaja,yang di ketua oleh Kepala sekolah dan seorang sekretaris.Hal-hal yang belum dapat di pecahakn dapat di tanyakan secara tertulis kepada Sanngar Tekkom atau langsung ke BPMR Semarang dan Yogyakarta.
h.Evalusi
Untuk memperoleh informasi berkenaan dengan efektifitas dan efisiensi tingkat pencapaian tujuan ,kelayakan dan akseptabilitas baik program-program yang di sjikan maupun sistem pembelajaran secra menyeluruh dilaksanakn kegiatan evalusi formatif atau pun sumatif secra berkala.Kegitan ini dilaksnajan oleh suatu tim evaluasi yang di koordinasikan oleh Pus Tekkom bekerja sama dengan perguruan tinggi.
Ada beberpa hal yang dapat di simpulakn dari beberpa ilustrasi dari pengalaman radio pendidikan baik diIndonesia maupun dari luar yakni :
a. Pendidiakan melalui radio harus merupakan bagian dari suatu kebulatan sistem penyajian (total delivery sistem ).Beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah ;
1. Kurikulum 9segala kegaitan yang diberiakn kepada anak didik)
2. Acara dan metod esiaran yang di atur
3. Tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang pembina pendidikan
4. Monitoring kegiatan dan kemajuan anak
5. Evaluasi kemajauan
b. Koordiansi dan kerja sama yang luas sangat di perlukan Kerja sama itu tudak hanay antara penyiar dengan pembimbing dan pendengar tetapi juga dengan pemuka dalam masyrakat ,organisasi /perkumpulan pemuda,majiakn da lain-lain yang secra langsung maupun tidak langsung memepunyai kepentingan.
c. Harus diadakan rencana dalam jangka panjang karena siaran pendidikan non-formal perlu disiarkan secara teratur dalam jangka waktu y ang cukup panjang.
d. Acara sisran harus dibuat sedemikian rupa hingga menarik para pendengar.anak-anak karen amerka merasa di perlakukan sebagai suatu pribadi yang dapat mengenal potensinay sendiri degan memeproleh pengetahaun ,ketrampilan ,dan sikap yang baru.
e. Pengatauara program harus dibuat sedemokian rupa hingga di mulai dari persmaan terbesar 9commen denominstor )diantaranya kelompok sasaran tertentu ,dengan demikaian semuanya dapat mengikuti.
Terlepas dari kekuranagn dan hambatan yang di hadapi SRP dalam penyelenggraaannya ,SRP merupakan cikal bakal pendidikan terbuka dab jarak jauh (PTJJ) di Indonesia .Pada tahun 1979 telah di kembangkan SMP Terbuka di lima propinsi .Perintisan SMP Terbuak (Haryono ,1984)tersebut banyak di dukung oleh teaga yang berpengalaman dalam penyelenggaraan SRP .Perintisan UT juga banyak memanfaaatkan fasilitas dan pengalaman penyelenggara SRP sehingga dapat di kataakn bahwa SRP merupakan embrio (cikal bakal) PTJJ di Indonsia.
Organisasi
Untuk menjamin terselenggaranya dan tercapainya tujuan Diklat SRP sebagai mana yang di rencanakan ,di susun sutu organisasi dan mekaisme kerja sebagai berikut :
1.Forum koordinasi tingkat pusat yang anggotanya terdiri dari unsur Pustekkom Dikbud ,Dit.Radio Deppen ,Dit.Dikgutentis,dan Dit.Dikdas yang bertugas antara lain untuk menyusun dan mengusulkan kebijakan diklat,menyiapkan dan menyediakan bahan dan sarana belajar ,mengkoordinasikan pelaksanaan diklat ,merencanaakn dan mengembangkan penilaian ,melaksanakan pemantauan dan pembinaan dan menyusun serta melakukan penyemournaan penyelengaraan program diklat.
2. Forum Koordinasi tingkat daerah yang terdiri dari unsur Kanwil Dikbud ,Sanggar tekkom ,Pemda/Dinas P dan K serta RRI/RPD/RSN ,yang mempunyai tugas antara lain melaksanakan penyelenggaraan dikalt SRP ,mengadakan pemantauan dan pembinaan terhadap kelompok belajar ,serta melaksanakan penilaian dan melaporkan kegiatan secara berkala.
| Dit radio |
| DIKGUNTET |
| RRI |
| RPD RSN |
| Sanggar Tekkom |
| Kanwil Dekbud |
| PEMDAV Dinas P & K |
| Bidang Dikgu |
| Bidang Dikdas |
| Kanepdikbud Kabupaten |
| Kanepdikbud kecamatan |
| Peserta |
| DIKDAS |
| PUSTEKKO |
B.Radio Pendidikan
1.Latar Belakang
Dari sekian banyak kemajuan teknologi yang ada, dunia pendidikan ikut terkena dampaknya. Sekarang kita perhatikan, anak-anak kecil yang seharusnya menikmati hari-harinya dengan bermain dan belajar sekarang terlihat duduk manis di depan sebuah kotak yang ajaib yang kita sebut televisi. Kotak tersebut telah menyihir anak-anak dengan tayangan yang tidak mendidik dan berkualitas.
Kemudian muncul pertanyaan di dalam diri kita. “Jika media yang memiliki teknologi canggih ada dampak buruknya bagi anak, dengan media apa yang bisa kita gunakan?”. Sebuah pertanyaan klasik yang tentunya ada dalam pikiran setiap orang. Pertanyaan kuno yang mungkin disepelekan oleh mereka yang tidak peduli dengan pendidikan. Hanya satu jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu radio.
Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.
Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.
2.Pengembangan Program dan Sistem Penyajian
a. Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar (PDKBM) sebagai kurikulum penataran lewat media.
b. Penulisan naskah bahan penyerta siaran (BP).
c. Penulisan naskah siaran
d. Produksi dan penggandaan program siaran.
e. Penyebaran (distribusi) BP ke kelompok belajar dan program siaran ke stasiun pemancar.
f. Transmisi (penyiaran) program dari Stasiun Pemancar Radio.
g. Pembinaan Kelompok Belajar.
h. Evaluasi.
Menurut Rini Rahayu, (mahasiswa PPS Unnes, wacana Suara Merdeka 13 September 2005) ada beberapa langkah alternatif yang perlu ditegakkan agar siaran efektif yaitu :
• Agar siaran radio rendidikan bisa didengar dan berhasil menjadi media peningkatan wawasan guru dalam proses belajar mengajar kepada peserta didik, Balai yang ditunjuk sebagai pengelola, hendaknya berperan aktif melaksanakan prinsip-prinsip organisasi terutama koordinasi kepada kelompok belajar agar selalu memonitor dan mengikuti siaran
• RRI yang ditunjuk diantara beberapa media yang menyiarkan siaran radio pendidikan tidak ada salahnya jika senantiasa gencar memutar “promo acara” agar siaran ini dapat diketahui. Karena melakukan koordinasi dengan stakeholders dan instansi terkait merupakan bagian tugas dan fungsi dari RRI.
• Untuk mendapatkan produksi paket siaran radio pendidikan yang berkualitas, pihak BPMR hendaknya tetap komit mengaktualisasikan prinsip dan fungsi manajemen yang dinamis, sehingga dapat dihasilkan mutu paket yang menarik, enak diikuti juga pesan yang disampaikan diterima, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka dalam mengefektifkan proses belajar – mengajar.
• Sebagai pendidik idealnya menyadari dan beraplikasi terhadap pendidikan yang mempunyai konsep pendidikan sepanjang hayat sehingga mendengarkan dan mengikuti radio pendidikan merupakan kegiatan sebagai pengayaan.
• Pihak-pihak yang terlibat dalam radio pendidikan hendaknya duduk bersama menentukan langkah terbaik agar diklat siaran ini dapat efektif.
Jika fungsi dari media radio telah diketahui, serta banyak manfaat yang dapat diambil apalagi dengan adanya manajemen yang baik, maka kenapa tidak kita menggunakan radio sebagai media pendidikan melalui siaran radio pendidikan.
Jika fungsi dari media radio telah diketahui, serta banyak manfaat yang dapat diambil apalagi dengan adanya manajemen yang baik, maka kenapa tidak kita menggunakan radio sebagai media pendidikan melalui siaran radio pendidikan.
Beberapa program-program dari siaran radio pendidikan
· Program Reguler
· Progam Mingguan
· Insert
· Reportase
3.Pengertian Radio Pendidikan
Radio adalah suatu perlengalapan elektonik yang di ciptakaan berkata kemajuan dalam bidang teknlogi .Keunggulan radio yaitu bersifat “Portable”.Radio pendidikan adalah media yang menyampaikan pesan- pesan pembelajaran melalui CD Audio atau disiarkan melalui station pemancar radio (Sri Wahyuni:2008). Media radio dalam pembelajaran berperan sebagai media yang dapat membantu menyelesaikan masalah dalam pendidikan.
4.Sasaran dari Program-Program Radio Pendidikan
· Untuk perombakan atau perkembangan dalam suatu bidang.
· Untuk siaran yang ditujukan ke sekolah atau suatu kelas dari sekolah sebagai tindakan pengarahan atau pengayaan pada suatu bidang studi pada suatu tingkatan sekolah.
· Untuk kgiatan yang merupakan kegiatan pendidikan formal yang bertindak sebagi perluasan suatu sekolah atau tingkat persekolahan.
· Untuk kegiatn yang merupakan kegiatan pendidikan non- formal (ko- kurikuler), misalnya untuk pendidikan kepramukaan, taruna karya dan sebagainya diluar persekolahan.
5.Nilai radio Pendidikan
-Memberikan berita terbaru
- Menarik minat
-beritanya autentik
-Berdasrkan kenyataan
-Mempunyai daerah tinnjauaa yang laus
-mmeberikan gambaran yang jelas
-mendorong kretifias
-integrasi dan diskriminasi
6. Contoh Pemanfaatan
a. Program pendidikan dan pelatihan guru SD melalui Diklat (SRP)
b. Program D-2 SP (Siaran Pendidikan)
c.Program SRPM SD untuk murid SD
C.Televisi Pendidikan
a) Pengertian Televisi pendidikan
Televisi pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkannya. Televisi pendidikan tidak sekedar menghibur, tetapi yang lebih penting adalah mendidik. Oleh karena itu ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-dituntun oleh instruktur. Seorang guru atau instruktur menuntun siswa melalui pengalaman-penglaman visual.
-Sistemetis. Siaran berkaitan dengan mata pelajaran dan silabus dengan tujuan dan pengalaman belajar yan terencana.
-Teratur dan berurutan. Siaran disajikan dengan selang waktu yang beraturan secara berurutan dimana satu siaran dibangun atau mendasari siaran lainnya
-dituntun oleh instruktur. Seorang guru atau instruktur menuntun siswa melalui pengalaman-penglaman visual.
-Sistemetis. Siaran berkaitan dengan mata pelajaran dan silabus dengan tujuan dan pengalaman belajar yan terencana.
-Teratur dan berurutan. Siaran disajikan dengan selang waktu yang beraturan secara berurutan dimana satu siaran dibangun atau mendasari siaran lainnya
b) Sejarah televisi
Sejarah penemuan televisi itu terdapat berbagai orang maupun organisasi yang terlihat di dalamnya. Dari perkembangan ide sampai menjadi sebuah mesin elektronik bernama televisi, dibuat dengan kerja keras dari berbagai pihak.
Adapun sejarah perkembangan televisi adalah
1876 – George Carey menciptakan selenium camera, yang memiliki gambaran supaya seseorang dapat melihat listrik.1881, Ide dari penggunaan scanning untuk mengirim gambar dimasukkan untuk sebenarnya penggunaan praktis pantelegraph. Dan terus berkembang hingga Tahun 2000 ke atas, Pengembangan produk LCD, Plasma bahkan CRT. Dan menyusul perkembangan sejarah televisi digital[ “Sejarah Perkembangan Televisi”, http://blogbintang.com/sejarah-perkembangan-televisi, 30/11/2009/12.39WIB.]
1876 – George Carey menciptakan selenium camera, yang memiliki gambaran supaya seseorang dapat melihat listrik.1881, Ide dari penggunaan scanning untuk mengirim gambar dimasukkan untuk sebenarnya penggunaan praktis pantelegraph. Dan terus berkembang hingga Tahun 2000 ke atas, Pengembangan produk LCD, Plasma bahkan CRT. Dan menyusul perkembangan sejarah televisi digital[ “Sejarah Perkembangan Televisi”, http://blogbintang.com/sejarah-perkembangan-televisi, 30/11/2009/12.39WIB.]
c) Latar Belakang
Masyarakat kita tidak dapat terlepas dari perkembangan masyarakat dunia pada umumnya yaitu masyarakat informasi dimana informasi akan menentukan tingkat perkembangan atau kemajuan seseorang atau suatu unit masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat kita perlu dipersiapkan kearah itu antara lain dengan menerapkan media-media elektronik modern sebagai penunjang pendidikan si Indonesia seperti televisi dan internet. Medium televisi tidak diciptakan khusus untuk pendidikan. Melainkan diusahakan pemanfaatannya dalam pendidikan.[ Yusuhhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 145.]
Sebagai medium komunikasi. Televisi terlebih internet mampu merangsang indra kita dengan menampilkan suara, gambar, lambang, tulisan dan gerakan secara bersamaan. Kecuali itu teknologi televisi memungkinkan penyebaran pesan yang meluas, perekaman pesan untuk penggunaan ulang dan bahkan akhir-akhir ini pemantapan pesan secara interaktif.
Penyiaran program TV pendidikan dapat di golongakn menjadi siaran yang vbersifat umum dan khusus.Siaran yang bersifat umum adalah program pendidikan yang dapat di ikuti oleh semua golongan pemirsa .
Contoh siaran yang bersifat umum adalah program discovery features tentanf seni dan budaya ,dan sejuklah program talk show dengan topik yang sangat bervariasi .
Siaran TV pendidikan yang bersifat khusus yang sering di sebut sebagai TV pembelajaran (instructinonal TV)adalah siaran TV yang sengaaja di rancang untuk pemirsa atau khalyak tertentu .Contoh siaran pendidikan adalah pelajaran sekolah dan siaran pendidikan UT yang penuh di tanyangkan oleh TVRI dan Televisi Pendidikan Indonesia .Siaran pendidikan ini di rancang secara khusus untuk mengkomuniakasiakn materi ajar kepada siswa sekolah menengah dan mahasiswa yang mengikuti program pendidikan jarak jauh .
TPI menyediakan sebgaian besar waktunya untuk menayangkan progaram pendidiakn dan pembelajaran .Sejumlah institusi pendidkan mealakukan kerja sama dengan TPI untuk menayankan program yang mereka hasilakn .Untuk menayangkan program pendidiakn adasar menengah ,TPI melakkan kerjasaama produksi denagn Pustekkom dan Depdikbud.Sedangkan unutk penayangan program pendidikan tinggi ,TPI melakukan kerja sama dengan UT.Program TV perkuliahan UT swlain bertyjuan untuk memperkaya oenegtahuan mahasiwa juga ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat.
d)Kelebihan televisi pendidikan
Kelebihan televisi pendidikn sebagai media pembelajaran secara umum :
1. Mampu memberikan ransanagan yang bervariasi kepada otak kiata sehingga otak mampu berfungsi secraa optimal
2. Mengatasi keterbatasan pengalaman yang di miliki oleh peserta didik
3. Melapuai batas ruang kelas
4. Memungkinkan interaksi langsung antara peserta didk dengan lingkunganya
5. Menghasilakan keseragaman pengamatan
6. Memebnagkitkan keinginan dan minat baru
7. Membangkitkan motivasi dan meransnag untuk belajr
8. Memeberikan penglamaan yang menyeluruh dari suatu objek abstrak atau kongkrit
9. Memberikan kesempatan untuk belajar mandiri
10. Meningkatkan kemampuan keterbacaan baru
11. Meningkatkan efek sosialisasi
12. Minengkatkan ekspresi diri
Beberapa kaarakteristik positif media televisi pendidikan adlah :
a. Memberiakn pesan yang dapat di terima secara lebih merata oleh siswa
b. Sangat bagus unutk mnerangkan susatu proses
c. Mengatasie kterbatasan uang dan waktu
d. Lebih realistis .dapat di ulang-ulang dan di hentikan sesuai dengan kebutuhan
e. Memberikan kesan yang mendalam ,yang dapat memepengaruhi sikap siswa
D.Televisi Education
I. Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang luas. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Di pulau - pulau inilah tersimpan potensi sumber daya manusia yang diperlukan bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu perlulah di buat sebuah pendidikan yang layak. Untuk itu dibangun berbagai sarana dan diadakan berbagai buku agar seluruh rakyat dapat menikmati pendidikan. Namun karena wilayah yang begitu luas maka proses pembangunan berjalan dengan lambat, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.
Maka dengan itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (pada waktu itu) menugaskan kepada Pustekkom sebagai unit khusus yang menangani pendayagunaan teknologi pendidikan untuk melakukan persiapan-persiapan ke arah pemanfaatan media televisi guna mendukung peningkatan dan pemerataan pendidikan. Maka sejak tahun 1978 Pustekkom melaksanakan pengembangan dan produksi program-program media televisi pendidikan. Hingga tahun 2007 program televisi yang telah diproduksi mencapai jumlah 5.163 judul.
Untuk merealisasikan siaran televisi pendidikan, pada tahun 1980-an Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran program televisi pendidikan dengan TVRI. Program yang disiarkan sangat popular saat itu, yaitu serial Aku Cinta Indonesia (ACI). Namun kerjasama tersebut tidak dapat berlanjut karena adanya perbedaan-perbedaan dalam aspek kebijakan dan teknis.
Pada tahun 1990-1995, Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran dengan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yaitu sebuah televisi swasta yang pada awalnya dirancang sebagai televisi yang mengemban misi pendidikan. Meskipun kerjasama ini cukup berhasil, namun harus berakhir karena pihak TPI telah mengubah kebijakan menjadi sebuah stasiun televisi komersial.
Untuk keperluan koordinasi dalam manajemen pendidikan antara pusat dengan Dinas Provinsi (waktu itu kanwil), maka pada tahun 1994-1995 diadakan teleconverence antara Menteri Pendidikan Nasional dengan seluruh Dinas Pendidikan Provinsi di Indonesia. Bahkan pada 2 Mei 1994 dalam rangka hari Pendidikan Nasional diadakan teleconverence antara Wakil Presiden (Tri Sutrisno) di Yogyakarta dengan 4 Dinas Pendidikan. Pada tahun 1996 - 1998 Pustekkom juga pernah bekerjasama dengan Cakra-warta (Indovision) menyiarkan siaran pendidikan di Quick Channel.
Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE).
Maka dengan itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (pada waktu itu) menugaskan kepada Pustekkom sebagai unit khusus yang menangani pendayagunaan teknologi pendidikan untuk melakukan persiapan-persiapan ke arah pemanfaatan media televisi guna mendukung peningkatan dan pemerataan pendidikan. Maka sejak tahun 1978 Pustekkom melaksanakan pengembangan dan produksi program-program media televisi pendidikan. Hingga tahun 2007 program televisi yang telah diproduksi mencapai jumlah 5.163 judul.
Untuk merealisasikan siaran televisi pendidikan, pada tahun 1980-an Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran program televisi pendidikan dengan TVRI. Program yang disiarkan sangat popular saat itu, yaitu serial Aku Cinta Indonesia (ACI). Namun kerjasama tersebut tidak dapat berlanjut karena adanya perbedaan-perbedaan dalam aspek kebijakan dan teknis.
Pada tahun 1990-1995, Pustekkom melakukan kerjasama di bidang penyiaran dengan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yaitu sebuah televisi swasta yang pada awalnya dirancang sebagai televisi yang mengemban misi pendidikan. Meskipun kerjasama ini cukup berhasil, namun harus berakhir karena pihak TPI telah mengubah kebijakan menjadi sebuah stasiun televisi komersial.
Untuk keperluan koordinasi dalam manajemen pendidikan antara pusat dengan Dinas Provinsi (waktu itu kanwil), maka pada tahun 1994-1995 diadakan teleconverence antara Menteri Pendidikan Nasional dengan seluruh Dinas Pendidikan Provinsi di Indonesia. Bahkan pada 2 Mei 1994 dalam rangka hari Pendidikan Nasional diadakan teleconverence antara Wakil Presiden (Tri Sutrisno) di Yogyakarta dengan 4 Dinas Pendidikan. Pada tahun 1996 - 1998 Pustekkom juga pernah bekerjasama dengan Cakra-warta (Indovision) menyiarkan siaran pendidikan di Quick Channel.
Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE).
2.Pengertian TV E
(Televisi Edukasi) adalah sebuah stasiun televisi di Indonesia. Stasiun televisi ini khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat. Stasiun televisi ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar tanggal 12 Oktober 2004. Studio TVE berada di Jakarta, dan memiliki afiliasi dengan stasiun televisi pendidikan di daerah. Televisi Edukasi dimiliki oleh Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.
Televisi pendidikan atau yang lebih di kenal dengan sebutan Televisi Edukasi (TVE). TVE merupakan siaran televisi yang memfokuskan diri pada siaran pendidikan. Di mana di dalamnya terdapat program – program yang memberikan pengajaran kepada peserta didik. Dengan adanya TVE maka di harapkan proses pemerataan pendidikan di Indonesia dapat berjalan lebih cepat dari sebelumnya. TVE memiliki visi menjadi siaran televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Dengan misi menyiarkan program yang mencerdaskan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan - kebijakan Depdiknas, dan mendorong masyarakat gemar belajar. Dan bertujuan untuk memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional.
3.Tujuan TV E
Tujuan didirikannya TVE ialah memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional. Sasaran TVE adalah Peserta didik dari semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat.
4.Keuntungan dan Kelemahan TVE
Keuntungan :
1. Bersifat langsung dan nyata serta dapat menyajikan peristiwa yang sebenarnya
2. Memperluas tijauan kelas melintasi berbagai daerah atau berbagai negara
3. Dapat menciptkan kembali peristiwa masa lampau.
4. Banyak menggunakan sumber-sumber masyarakat.
5. Menarik minat anak.
6. Dapat melatih guru ,baik dalam pre-service maupun dalam inservise training
7. Masyarakat diajak berpartisipasi dalam rangka meiningkatkan perhatian terhadap sekolah
Kelemahan :
1. Menekankan pentingnya materi daripada proses pengembangan materi tersebut.
2. Sifat komunikasi yang hanya 1 arah.
3. Guru disekolah sulit untuk mengontrol proses penyampaiannya.
5.Sasaran dari TV E
Sasaran TVE adalah Peserta didik dari semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat.Sasaran TV E terutama adalah sekolah
6.Program TV E
Sampai pada tahun 2007 ,TV E telah memeiliki materi siar sebanyak 5.163 program ,yang meliputi program pendidiakn persekolahan (formal) yang berbasis kurikulum dan program pendidikan luar sekolah (informal dan non formal) seperti kejar paket,kursus,PAUD,budaya,keterampilan ,agama ,kesehatan budi pekerti ,pertanian ,peternakan ,dll,serta informasi kebijakan depdiknas.
Program pembelajaran merupakan program yang dominan di televisi edukasi .Program tersebut di kembangkan sesuai dnegan kurikulum yang berlaku ,meliputi berabagai mata peljaran seperti bahasa indonesisa ,bahsa inggris ,matematiak ,sains,sejarah ,ekonomi ,untuk jenjang SD,SMP,SMA,dan SMK.Khusus untuk SMP sejak tanggal 17 juli 2006,mteri siaran pembelajaran diarahkan pada 3 mata pelajaran yaitu bhasa indonesia ,bahsa iingris dan matematika.
Siaran TVE direlai oleh TVRI setiap hari Senin hingga Jumat pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. TVE mempunyai dua channel yaitu channel 1 dan channel 2:
-channel 1, sasaran siswa guna menunjang proses pembelajaran sekolah (siaran 24 jam/hari)
-channel 2, sasaran guru guna menunjang proses peningkatan mutu guru (siaran 12 jam/hari).
7.Manfaat TV E
Bagi siswa: siswa termotivasi ,sehingga senagn belajar tanpa harus meninggaalakn kesukaan ,hobi dan kebiasaannya.
Bagi Guru : Dapat menambah wawasan tentang strategi pembelajaraan berbasis IT
Bagi Sekolah : Untuk meningkatkan mutu pendidiakn di sekolah
Pengembangan kurikulum :merupakan upaya penyempurnaan kurikulum
Pola pemanfaatan siaran TV E dapat dilakukan dengan cara,yaitu:
1. Pola klasikal ,yaitu pemanfaatan siaran TV E secraa terpadu dalam kegiatan pembelajaran di kelas ,karena sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku .
2. Pola kelopompok kecil ,yang di kaitakna denga tugas kelompok dilakukan oleh siswa dengan bimbingan dan arahan guru bidang studi.
3. Pola individual ,denagan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tayanagan TV E .
Langkah –laangkah pemanfaatan siaran TV E sbb:
a. Penyusunan Rancangan Pemanfatan siran TV E yang terintegrasi dalam program pembelajaran denga menyusun RPP yang sudah di sesuaikan antara materi pelajaarn,media-media yang di butuhkan ,dan jadwal siaran TV E.
b. Kegitan-kegiatan sebelum mangikuti siran TV E adlah memebaca buku bahan penyerta ,mengecek kelengkapan peralatan dan mengatur tempat duduk .
c. Selaama pelaksanaan harus di pastikan semua siswa mengikuti siaran denagn baik,menjelaskan tujuan pembelajaran da pokok maateri semua isi buku penyert adan menjaga suasana tetap kondusif ,memberi pengayaan terhadap tayangan program dan memebuat kesimpulan
d. Selesi menyaksiskan tayangan guru mengulas materi yang disaksikan ,memeberi pertanyaan dan umpan balik ,melanjutkan dengan pratikum .jika di perlukan ,mengerjakan tugas LKS dan mengajak siswa memperkaya materi melalui sumber belajar lain yang relevan.
E..Kelompok Paket Belajar A, B, C
· Latar Belakang
Saat sekarang ini pemerintah telah mencanangkan untuk wajib belajar 9 tahun.Telah banyak dibentuk suatu lembaga pendidikan untuk menunjang hal tersebut.Pendidikan tersebut berupa pendidikan non formal.Program ini telah dicanangkan pemerintah sejak tahun 1994.Pelaksanaan program belajar tersebut diantaranya penyelenggaraan program paket belajar A, B, dan C. Peningkatan perhatian dan peran serta masyarakat terhadap program Paket A dan Paket B perlu diimbangi dengan upaya penyiapan kompetensi peserta didik agar memiliki kesiapan untuk terjun ke masyarakat dan dunia kerja, karena sebagian besar dari mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
· Tujuan
Paket belajar pada hakikatnya bertujuan memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk mengikuti pendidikan dasar dan menengah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan peserta didik yang tidak memiliki kesempatan belajar pada pendidikan formal.
Tujuan Pendidikan Kesetaraan Paket A adalah memperluas akses Pendidikan Dasar sembilan tahun melalui Pendidikan Non Formal program paket A.
Tujuan Pendidikan Kesetaraan Paket B adalah memberikan pelayanan pendidikan dasar setara SLTP pada siswa lulus SD atau yang sederajat karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal
Tujuan Program Paket C adalah memperluas akses Pendidikan Non Formal Program Paket C setara SMA / MA yang menekankan pada ketrampilan fungsional dan kepribadian profesional.
· Pelaksanaan paket Belajar
Untuk membantu pelaksanaan pembelajaran akademik dan pembekalan kecakapan hidup pada program Paket A dan Paket B, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah mengalokasikan dana bantuan langsung (blockgrant) berupa Bantuan Operasional Penyelenggaraan Program Paket A dan B yang bersumber dari APBN. Penyediaan dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) tersebut oleh pemerintah pusat adalah sebagai upaya mendorong UPTD BPKB/BP3LS dan SKB agar lebih optimal dalam memberikan layanan pendidikan kesetaraan, melakukan inovasi pembelajaran dan pengembangan model pada program pendidikan kesetaraan.
bantuan langsung BOP Penyelenggaraan Program Paket diarahkan untuk tujuan sebagai berikut: 1) Membantu lembaga penyelenggara program (UPTD BPKB, BP3LS dan SKB Kab./Kota) untuk membiayai operasional penyelenggaraan program Paket
DAFTAR PUSTAKA
1.Miarso,Yusufhadi dkk.1984.Teknologi Komunikasi Pendidikan.Jakarta:CV Rajawali.(hlm:3-30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar