Penerapan Teknologi Pendidikan di Indonesia
Diajukan dalam rangka melengkapi tugas kelompok
Mata Kuliah Pengantar Teknologi Pendidikan

Disusun Oleh Kelompok 1
Anggota :
Mega Siska (1100422/2011)
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
CBSA(CARA BELAJAR SISWA AKTIF)
A. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan.
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan.
Dan menurut T. Raka Joni, CBSA adalah suatu pendekatan, bukan suatu metode atau teknik mengajar. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif pada dasarnya adalah melihat kegiatan belajar sebagai pemberian makna secara konstruvistik terhadap pengalaman oleh pebelajar dan dengan dituntun azas “tut wuri handayani” pengendalian kegiatan belajar harus meletakkan dasar bagi pembentukan prakrsa dan tanggung jawab belajar ke arah belajar sepanjang hayat.
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
B. Latar belakang CBSA
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, di mana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswanya, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses ( PKP ) dalam proses pembelajaran. Baik CBSA maupun PKP merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
CBSA menuntut keterlibatan mental sisw aterhaap bahan ynag di pelajari .CBSA menuntut keterlibatan mental yang berhubungan dengan aspek –aspek kognitif ,afektif dan psikomotorik .Mealalui proses kognitif pembelajaran akan memilki penguasaan knsep dan pronsip .Akantetapi dengan CBSA para pemelajar dapt melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan kepada mereka.
C. Dasar-Dasar Pemikiran (Rasional) Pendekatan CBSA
Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha peningkatan CBSA dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah sebagai berikut:
Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang. Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan. Perubahan ini mengarah ke segi-segi positif yang harus didukung oleh tindakan secara intelektual, oleh k mauan, kebiasaan belajar yang teratur, mempersenang diri pada waktu belajar hendaknya tercipta baik di sek lah maupun di rumah. Bukankah materi pelajaran itu banyak, bervariasi dan ini akan memotivasi pembelajar memiliki kebiasaan belalar. Dalam hubungannya dengan CBSA salah satu kompetensi yang dituntut ialah memiliki kemampuan profesional, mampu memiliki strategi dengan pendekatan yang tepat.
Belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan murid – murid untuk dirinya sendiri. Guru adalah pembimbing dan pengarah, yang mengemudikan perahu, tetapi tenaga untuk menggerakkan perahu tersebut haruslah berasal dari murid yang belajar. Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya. Dengan Penerapan CBSA, siswa diharapkan akan lebih mampu mengeanal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. Selain itu, siswa diharapkan lebih terlatih untuk berprakarsa, berfikir secara teratur, kritis, tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari – hari, serta lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya ( Raka Joni, 1992 : 1 ). Guru diharapkan bekerja secara professional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna ( efisien dan efektif ) artinya guru dapat merekayasa system pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaimana menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif ( Raka Joni, 1992 : 11 ). Lambat laun penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru – guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan social budaya.
- Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin dalam kegiatan belajar mengajar akan mampu menimbulkan nilai yang berharga dan gairah belajar menjadi makin meningkat. Komunikasi dua arah (seperti halnya pada teori pusaran atau kumparan elektronik) menantang pembelajar berkomunikasi searah yang kurang bisa membantu meningkatkan konsentrasi. Sifat melit yang disebut juga ingin tahu (curionsity) pembelajar dimotivasi oleh aktivitas yang telah dilakukan. Pengalaman belajar akan memberi kesempatan untuk rnelakukan proses belajar berikutnya dan akan menimbulkan kreativitas sesuai dengan isi materi pelajaran.
- Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak metode, media secara bervariasi dapat berdampak positif. Cara seperti itu juga akan memberi peluang memperoleh balikan untuk menilai efektivitas pembelajar itu. Ini dimaksud balikan tidak ditunggu sampai ujian akhir tetapi dapat diperoleh pembelajar dengan segera. Dengan demikian kesalahan-kesalahan dan kekeliruan dapat segera diperbaiki. Jadi, CBSA memberi alasan untuk dilaksanakan penilaian secara efektif, secara terus-menerus melalui tes akhir tatap muka, tes formatif dan tes sumatif.
- Dilihat dari segi pemenuhan meningkatkan mutu pendidikan di LP’TK (Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik) maka strategi dengan pendekatan CBSA layak mendapat prioritas utama. Dengan wawasan pendidikan sebagai proses belajar mengajar menggarisbawahi betapa pentingnya proses belajar mengajar yang tanggung jawabnya diserahkan sepenuhnya kepada pembelajar. Dalam hal ini materi pembelajar harus benar-benar dibuat sesuai dengan kemampuan berpikir mandiri, pembentukan kemauan si pembelajar. Situasi pembelajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam memecahkan masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan secara praktik
D. Hakikat Pendekatan CBSA
Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif. Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
- Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan.
- Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan.
- Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien. Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar.
E. Penerapan CBSA
Ada prasyarat tertentu yang harus di miliki oleh guru untuk meningkatkan kadar CBSA suatu proses pembelajaran.Peningktaan kadar CBSA dari suatu proses pembelajarn berarti pula mengarahkan proses pembelajarn yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran siswa .
Unruk dapat mengolah dan merancang program pembelajaran dan proses ,seorang guru hendaknya mengenak faktor-faktor penentu tersebut adalah :
1. Karakterisyik tujuan yang mencakup pengetahuan ,ketrampilan ,dan nilai yang ingin di capai atau di tingkatkan sebagai hasil kegiatan
2. Karakteristik mata pelajaran /bidnag studi yang meliputi tujuan ,isi pelajaran,urutan,dan cara mempelajarinya.
3. Karakteristik siswa ,mencakup karakteristik perilaku masukan kognitif dan afektif ,usia,jenis kelamin dan yang lain
4. Kerakteristik lingkungan /seting pembelajaran ,emncakup kuantitas dan kualitas prasarana ,alokasi jam pertemuan dan yang lainnya
5. Karakteristik guru meliputi filosofinya tentang pendidikan dan pembelajaran ,kompetensinya dalam teknik pembeljaran ,kebiasaannya ,pengalaman pendidikannya dan yang lainnya
Ada seorang guru yang mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA tinggi ,maka dalam memilih dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian hendaknay benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang di pilihnya .
F. Prinsip-Prinsip Pendekatan CBSA Dan Rambu-Rambu CBSA
Prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
1. Dimensi subjek didik :
- Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
- Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
- Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
- Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
- Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
2. Dimensi Guru
- Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
- Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
- Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
- Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.
- Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
- penyediaan pijakan dan tuntutan kognitif oleh guru sehingga siswa terbantu untuk memberikan makna terhadap pengalaman belajarnya.
- pemberian tugas/kesempatan bagi siswa untuk berbuat langsung guna mengkaji, berlatih/menghayati isi kurikulum,
- guru berusaha untuk memenuhi kebutuhan individu siswa
- guru berupaya melibatkan sebanyak mungkin siswa dalam interaksi belajar-mengajar
- guru mencek pemahaman siswa
- guru mengembangkan berbagai pola interaksi dalam proses belajar-mengajar, baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa
- pemantauan intensif dan diikuti dengan pemberian balikan yang spesifik dan segera.
3. Dimensi Program
- Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
- Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
- Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
4. Dimensi situasi belajar-mengajar
- Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam program maupun proses pembelajaran.
Rambu-rambu yang dimaksud adalah :
1. Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan
2. Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya
3. Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran
4. Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran
5. Keingintahuan yang ada pada diri siswa
6. Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa
7. kuantitas dan kualitas uasaha yang dilakukan guru dalam membina dan membina keaktifan siswa
8. Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator
9. Tingkat sikap guru yang tidak mendominasi dalam proses pembelajaran
10. Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan para guru dalam proses pembelajaran
11. Keterikatan guru terhadap program pembelajaran
12. Variasi interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran
13. Kegiatan dan kegembiraan siswa dalam belajar
Rambu-rambu yang dimaksud adalah :
1. Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan
2. Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya
3. Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran
4. Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran
5. Keingintahuan yang ada pada diri siswa
6. Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa
7. kuantitas dan kualitas uasaha yang dilakukan guru dalam membina dan membina keaktifan siswa
8. Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator
9. Tingkat sikap guru yang tidak mendominasi dalam proses pembelajaran
10. Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan para guru dalam proses pembelajaran
11. Keterikatan guru terhadap program pembelajaran
12. Variasi interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran
13. Kegiatan dan kegembiraan siswa dalam belajar
G. Indikator dan Dimensi CBSA
Indikator-indikator tersebut ialah :
1. prakarsa siswa dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat tanpa diminta,
2. keterlibatan mental siswa dalam pembelajaran, seperti pengiktan diri pada tugas yang dihadapi, penyelesaian tugas secara tuntas melebihi apa yang diharapakan,
3. peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator, pemantau dan pemberi balikan yang lebih bersifat ulur tangan dari pada campur tangan,
4. belajar eksperiensial (pengalaman langsung),
5. kekayaan variasi metode dan media dalam pembelajaran, dan
6. kualitas dan variasi interaksi dalam pembelajaran, baik antara guru-siswa maupun antar siswa.
Indikator-indikator tersebut ialah :
1. prakarsa siswa dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat tanpa diminta,
2. keterlibatan mental siswa dalam pembelajaran, seperti pengiktan diri pada tugas yang dihadapi, penyelesaian tugas secara tuntas melebihi apa yang diharapakan,
3. peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator, pemantau dan pemberi balikan yang lebih bersifat ulur tangan dari pada campur tangan,
4. belajar eksperiensial (pengalaman langsung),
5. kekayaan variasi metode dan media dalam pembelajaran, dan
6. kualitas dan variasi interaksi dalam pembelajaran, baik antara guru-siswa maupun antar siswa.
Sementara T. Raka Joni (1985) mengemukakan dimensi di dalam proses belajar-mengajar yang menentukan kadar keaktivan siswa, yaitu
1. partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar-mengajar,
2. penekanan pada aspek afektif (sikap) dalam pengajaran,
3. partisipasi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar (terutama dalam hal interaksi antar siswa),
4. penerimaan guru terhadap perbuatan dan kontribusi siswa yang kurang relevan atau bahkan sama sekali salah,
5. kekohesivan kelas sebagai kelompok,
6. kebebasan atau kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan di sekolah, dan
7. jumlah waktu yang digunakan untuk menaggulangi masalah pribadi siswa yang berhubungan dengan pengajaran.
1. partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar-mengajar,
2. penekanan pada aspek afektif (sikap) dalam pengajaran,
3. partisipasi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar (terutama dalam hal interaksi antar siswa),
4. penerimaan guru terhadap perbuatan dan kontribusi siswa yang kurang relevan atau bahkan sama sekali salah,
5. kekohesivan kelas sebagai kelompok,
6. kebebasan atau kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan di sekolah, dan
7. jumlah waktu yang digunakan untuk menaggulangi masalah pribadi siswa yang berhubungan dengan pengajaran.
Raka T. Joni mengungkapkan bahwa sekolah yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakterisitk berikut:
1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa,
2. Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,
3. Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis,
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa,
5. Penilaian.
1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa,
2. Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,
3. Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis,
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa,
5. Penilaian.
G.Manfaat CBSA
1). Untuk mengantarkan siswa ke kedewasaan dalam arti perkembangan yang optimal .Perkembangan yang optimal mempunyai arti yang luas ,yaitu pertama-tama peserta didik mangembangankan segala potensi yang ada padanya sehingga dapat mencapai kepuasaan diri yang sepenuhnya.
2).Peran serta siswa dalam berbagai kegiatan belajar secar aktif akan meningkat keterlibaatn mental siswa yang bersangkutan dalam proses belajar-mengajar
3). Kegiatan beljar-mengajar denga memberikan keleluasan kepada siswa unutk berkomunikasi dua arah itu memberiakn peluang bagi guru untuk memperoleh bahkan dalam rangka menilai keberhasilan pembelajarn yang dilaksanakn.
4).Untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru itu sendiri
B.PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES (PKP)
1. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan Keterampilan proses adalah wahana pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa.
1. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan Keterampilan proses adalah wahana pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa.
Menurut Semiawan ,dkk menyatakan bahwa keterampilan proses adlah keterampilan fidik dan mental terkait dengan kemampuan-kemamouan yang mendasr yang di milki ,di kuasau ,dan di aplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah ,sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.
Dimiyati dan Mudjiono (1999) menyimpulkan bahwa :
a. Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada siswa pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan.
b. Proses pengajaran yang berlangsung memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar mendengar cerita atau penjelasan guru mengenai sesuatu ilmu pemgetahuan. Justru di sisi lain siswa merasa berbahagia dengan peran aktifnya di dalam proses pengajaran.
c. Pendekatan keterampilan proses mengantarkan siswa untuk belajar ilmu pengetahuan, baik sebagai proses ataupun sebagai produk ilmu pengetahuan sekaligus.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan keterampilan proses menekankan pada upaya membelajarkan siswa bagaimana belajar. Oleh karena itu, hubungan antara CBSA dan PKP sangat erat dan berinterksi secara timbal balik. Pendekatan keterampilan proses dapat dikatakan merupakan perwujudan dari upaya pembelajaran melalui CBSA
2.Latar Belakang Ketrampial Proses
Dimiyati dan Mudjiono (1999) menyimpulkan bahwa :
a. Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada siswa pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan.
b. Proses pengajaran yang berlangsung memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar mendengar cerita atau penjelasan guru mengenai sesuatu ilmu pemgetahuan. Justru di sisi lain siswa merasa berbahagia dengan peran aktifnya di dalam proses pengajaran.
c. Pendekatan keterampilan proses mengantarkan siswa untuk belajar ilmu pengetahuan, baik sebagai proses ataupun sebagai produk ilmu pengetahuan sekaligus.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan keterampilan proses menekankan pada upaya membelajarkan siswa bagaimana belajar. Oleh karena itu, hubungan antara CBSA dan PKP sangat erat dan berinterksi secara timbal balik. Pendekatan keterampilan proses dapat dikatakan merupakan perwujudan dari upaya pembelajaran melalui CBSA
2.Latar Belakang Ketrampial Proses
Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan sisiwa dalam satuan pembelajaran .Guru senagai slaah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupaakan pemegang peran yang sangat penting.Guru bukan hanya sekedar penyampai dan pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar ,gurulah yang mengarahkan begaimana proses mengajar itu dilksanakn .Karen itu guru harus dapat mrmbuat suatu pengajarn menjadi lebih efektif juga menrik sehingga bahan pelajarn yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dna merasa perlu untuk memepelajari bahan pelajaran tersebut.
3.Rasional PKP
1)Perkembangan ilmu penegtahuan dan teknolgi yang pesat
Perkembangan ilmu sanagt pesat sehingga tidak mungkin bagi guru untuk menjadi satu-sarunya sumber belajar dengan menuangkan semua konsep dan informasi yang di perlukan.Guru di tuntut untuk membimbing siswa dalam menemukan informasi dan konsep yang selanjutnya mengolah prolrhan tersebut/”Pendekatn menjajal ikan”di coba mengalihkan kepada “pendekatan memberi kail”
2)Anak didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika anak dilibatkan secra fisik dan mental melalui percobaan dan praktek langsung.
3)Anak didik perlu di latih untuk brefikir secra katif ,kratif,dan inovatif melalui latiha berta ya,diskusi,menganati,mengklasifgkasi ,menginterpretasi,memprediksi,menerapakn,menilai,berfikir kritis dan mengupayakan berbagai kemungkinan jawaban.
4)Pendekatan keterampilan proses memberi keluwesan dalam belajar dari perbedaan individual anak dapat di layani dalam kegiatan belajra-mengajar.
2. Jenis Keterampilan dalam PKP
a. Keterampilan-keterampilan Dasar (Basic Skills)
Keterampilan-keterampilan Dasar terdiri dari :
• Mengamati
• Mengklasifikasikan
• Mengkomunikasikan
• Mengukur
• Memprediksi
• Menyimpulkan
b. Keterampilan-keterampilan Terintegrasi (Integrated Skills)
Keterampilan-keterampilan Terintegrasi terdiri dari :
• Mengenali variabel
• Membuat tabel data
• Membuat grafik
• Menggambarkan hubungan antar variabel
• Mengumpulkan dan mengolah data
• Menganalisis penelitian
• Menyusun hipotesis
• Mendefinisikan variabel
• Bereksperimen
a. Keterampilan-keterampilan Dasar (Basic Skills)
Keterampilan-keterampilan Dasar terdiri dari :
• Mengamati
• Mengklasifikasikan
• Mengkomunikasikan
• Mengukur
• Memprediksi
• Menyimpulkan
b. Keterampilan-keterampilan Terintegrasi (Integrated Skills)
Keterampilan-keterampilan Terintegrasi terdiri dari :
• Mengenali variabel
• Membuat tabel data
• Membuat grafik
• Menggambarkan hubungan antar variabel
• Mengumpulkan dan mengolah data
• Menganalisis penelitian
• Menyusun hipotesis
• Mendefinisikan variabel
• Bereksperimen
-Ketrampilan Mengobservasi
Ketrampilan mengobservasi adalah kertampial yang di kembangkan dengan menggunakan semua indera yang kita memiliki untuk mengidentifikasi dan memberika nama sifat-sifat dari objek –objek atau kejadian –kejadian.
Kegiatan yang dapat dialkuakn berkaitan dengan kegiatan mengobservasi misalnya menjelaskan sifat –sifat yang di milki oleh benda -benda ,sistem-sistem dan organisme hidup.Sifat yang dimiliki ini dapat berupa tekstur ,warna,bau,bentuk,ukuran,dan lain-lain.
-Ketrampilan mengklasifikasi
Kerampilan mengklasifikasi merupakan ketrampialn yang dikembangkan melalui latihan-latihan mengkategorikan benda-benda yang berdasarkan pada sifat-sifat benda tersebut.Bentuk-bentuk yang dapat di lakukan untuk meltih keterampilan ini misalnay memilihbentuk-bentuk kertas yang berbentuk kubus,gambar-gambar hewan ,daun-daun dan kancing –kancingberdasrkan sifat-sifat bend atersebut .Sistem –sistem klasifikasi berbagai itngkatan dapat di ebntuk dari gambar-gambar hewan dan tumuhan dan menempelakannya pada paapan buletin sekolah atau papan panjang di kelas.
-Keterampialn Mengukur
Mengukur adalh suatu cara yang kita lakukan untuk mengukur observasi ,mengukur merupakan membuat observasi kuantitatif dengan memenbandingkan nya terhadap standar yang konvensional aatu standar non konvensional.Untuk melakukan latihan pengukuran ,bisa mengunakan alat uku ryang di buat sendiri atau di kembangkan dari benda-benda yang ada di sekitar.Sedangkan pada tahap selanjutnya,menggunakan alat ukur yang telah baku di gunakan sebagi alat ukur.Sebagai contoh ,dalam pengukuran jarak ,bisa menggunakan potonga kayu ,benang ,ukuran tangan ,atau kaki sebagai satuaan ukurannya.Sedangkan dalam pengukuran isi,bisa mengunakan biji-bijian atau kancing yang akan di masukkan untuk mengisi benda yang akan di ukur.
-Keterampilam mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan adlah menyampaiakn hasil pengamatan yang berhasil di kumpulakn atau menyampaiakna hasil pendidikan .Kegiatan u tuk ketrampilan ini dapat berupa kegiatan meembuat dan menginterpretasi inforamsi dari grafik.chart,peta,gambar,dan lain-laina.Misalnya siswa mengembangkan ketrmpilan mengkomunikasikan deskripsi benda0bedna dan kejadian tertentu secara rinci.Siawa di minta untuk mangamati dan mendeskripsikan beberapa jenia hewan-hewan kecil ,kemudian siswa tersebuat menjelakan deskripsi tentang objek yang diamati di depan kelas.
-Ketrampilan menginferesi
Kertrapilan ini disebut juaga sebagi keterampilan membaut kesimpulan sementasr .Menurt Abruscato,menginferensi adalah menggunakan logika unutk membuat kesimpulan dari apa yang di observasi.Contoh kegiatan untuk mengembangkan ketrampilan ini adlah dengan menggunakan suatu benda yang di bungkus sehinga siswa pada mulanya tidak tahu apa benda tersebut .Kemudia siswa menguncang-guncangnya,lalu mencium dan menduganya apa yang ada di alaam bungkusu ini .Dari kegiatan itu ,siswa akan belajar bahwa akan muncul lebih dari satu jenis inferensi yang di buat untuk menjelaskan suatu hasil observasi .
-Ketrampilan mempredikasi
Memprediksi adalh meramal secara khusus tenatnag apa yang yang akan terjadi pda obsrvasi yang akan datang atau membuat pekiraan kejadian atau keadaan yang akan datang yang di harapakan akan terjadi .Contoh kegiatan untuk kejadian unutk melatih kegiatan in adalh memprediksi berap lama lelin yang menyala kaan tetap menyala jika kemudian di tutup dengan toples yang di telungkupkan.
-Ketrampilan mengenal hubungan ruang dan waktu
Ktetrampialn ini meliputi ketrampilan menjelaskan posisi suatu benda terhadap benda lainnya atau terhadap waktu atau ketrampilan mengubah bentuk yang dan posisi suatu benda setelah beberapa waktu .Untuk membantu mengembangkan pengertian siswa terhadap hubungan waktu ruang ,seorang guru dapat memberiakn pelajran tentang penegnalan dan persamaan bentuk-bentuk dua dimensi .Seorang guru dapat menyuruh siswa menjelaskan posisinya terhadap ssuatu misalnya seorang siswa dapat menyatakan bahwa ia berada di barisan ketiga bangku kedua dari kiri gurunya.
G.Tujuan PKP
Yaitu memberikan ketrampilan yang praktis yang akan di hadapi setiap orang dalam kehidupan ,sekaligus untuk mengembangkan pemahamannya tentang knsep yang di pelajarinya.
H.Model –model megajar dalam PKP
Model maksudnya di sini adalh dimana proses dan prosedur pemeblajaran yang dpat mengoptimalakan kegiatan belajar siswa.Beberapa model yang di kemukakan oleh Nana Sudjana yaitu ;
1) Model Dengar-Lihat-kerjakn (Delikan)
Model ini dapat di gunakan untuk menyampaiakn bahan pengajarn yang sifatnay fakta dan konsep .Aktivitas mental siswa dalam pengunaan model mengajar ini adlah mengingat ,mengenal,menjelaskan,membedakan,menyimpuakn,dan mnerapakn.model in menekankan inforamsi partisipasi .Penysuann satuan pelajaran sama dengan sistematika satu pelajaran biasa,perbedaannya hanya pada urutan kegiaatn belajar siswa yang di kembangkan menjadi tiga kegiaatn yakni:
a)kegiatan dengar
b)kegiatan lihat
c)kegiatan kerja
2. Model mengajar pemecahan masalah (Pemas)
a. Pola kegiatan pembelajarn in mengandung aktivitas belajar sisw ayang cukup tinggi ,tepat di gunakan unutk mengajarkan konsep dan prinsip.
b.Sktivitas mental yang dapat di jangkau melalui model ini adalah mengingat,mengenal,menjelaskan ,membedakan,menyinpulkan,emnerpakan,menganalisis ,mensintesis,menilai,dan meramal.
c.apaenysusnan staun pelajaran hampir sama dnegan model lain .Yang perlu di pehatikan adalah menyusun dan mengorganosasikan bahan ajar
3. Model Mengajar Induktif
a.Model kegiatan pembelajaran yang di kembangkan melalui cara berfikir induktif yaitu menarik kesimpualn dari fajta khusus menuju kepada hal yang umum .
b.Petunjuk pembuatan satuan pembelajaran
-Wktu paling sedikit 2 jam pelajaran
-Rumusan tujuan mencakup penyususn bahan ajar dan ketrampilam proses
-Bahan pengajaran terdiri dari konsep materi (garis besarnya ),fakta ,peristiwa gejala,yang akan di amati oleh siswa dan topik atau masalah yanag akan didiskusiokan
-Urutan belajar mengajar
Menerima informasi -> kunjungan lapangan atau labotarium->diskusi kelompok ->melaporkan hasil diskusi oleh stiap kelompok dan mernagkumnya sebagai kesimpulan diskusi kelompok.
-Penilaian ,penilaian proses selama keagiatan berlansung dan penilaian hasil belajar stelah pelajaran selesai .
4.Model mengajar deduktif
a.Poal belajarnya adalah menrik kesimpulan dari pernyataan umum menjdi pernyataa khusus,dari konsep toeri menjadi fakta.
b.Petunjuk pembuatan ,satuan pelajaran.Satuan pengajaranmodel pembelajaran deduktif tidak berbeda dari prinsip dengan satuan pelajaran model pembelajaran induktif.Pertbedaanya hanya terletak dalam menentuakan urutan KBM-nya
.Model pembelajaran induktif ->mulai drai kegiatan empiris melalui pengamatan gejala peristiwa atau proses di lapangan atau di laboratorium dan diakhiri denga generalisasi /penemuan,sedangkan model pembelajaran deduktif di mulai dari pembahasan prinsip dan konsep menuju pembuktian empiris si lapanagn atau di laboratorium
5.Model Mengajar Gabungan Deduktif Induktif
a.Pola belajar mengajar yang emnggabungkan oenggunaan kedua model ini dlaam satu proses pembelajran .Tahp pertama mengunakan pendekatan deduktif kemudian di lanjutkan dengan pendekatan induktif.
-Pendekatan deduktif menekankan kajian konsep dan prinsip bahan pengajaran secraa toritis ,berdasarkan prinsip –prinsip pengetahuan ilmiah.
-Pendekatan induktif menekankan kajian bukti –bukti empiris dari konsep dan prinsip di labiratorium atau dnegan alat sederhana atau dalam bentuk pemecahan masalah
b. Perunjuk pembuatan sataun peljaran
KBM yang ada dalam satuaan pemeblejaran harus mngandung :
-Penjelasan masalah dan gejala oelh guru ,supaya siswa memahami ruang lngkupnya
-Penelaahan buku sumber /informasi unutk mendukung pemecahan masalah
-Pembahasan atau penelaahan masalah dan gejal berdasarkan penegytahuanilmaih
-Mencari jawaban dan pembuktian masalahda gejala berdasarkan konsep dan prinsip penegtahuan ilmiah denagn mealui dis kusi ,pratikum atau penngamatan lapangan.
-Klasifikasinya TIK-nya mengandung unsur kognitfi tingkat tinggi seperti aplikasi ,analisis,sintesis,dan evaluasi.
I.Peranan guru dlam penerapan PKP
a) Guru membimbing dan mendiidk siswa unutk lebih terampil dalam mengemukaakn pengalaman ,pendapat dan hasil temuannya.
b) Guru menghidupakan suasan beljar yang kondusif sehingga mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif.
c)Guru emngajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang sehingga siswa terdoromg untuk meneliti dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut
d) a\Guru harus memncing keterlibatan siswa dlaam belajar ,misalnya dnegan cara memeberikan motivasi yang tinngi kepada siswa dlam mengajar
e) Guru harus memberikan semangat yang tinggi kepada iswa yang jelas,tepat dan tidak samar-samar pada siswa
f)Guru mendorong siswa untuk dapat menyimpulkan suatu maslah /peristiwa berdasarkan fakta,konsep,dan prinsip yang di ketahui
J.Hal –hal yang harus di perhatikan guru dalam penerapan PKP
1. Sebelum pelaksanaan PKP,guru menyususn program sedemikan rupa sehingga menunjang CBSA dengan kadar tinggi
2.Perlunya pengorganisasian kelas yang memungkinkan terciptanya suasana interaksi belajar mengajara yang emndorong siswa untuk aktif.
3.Memilih metoda dan media yang dapat menunjang aktifitas siswa dlaam belajar
4.Evalusai yang di alkkan hendaknya mencakup evaluasi proses dan hasil belajar siswa secra komperehensif.
CAI ( Computer Assisted Instruction)
Menurut Hick & Hyde CAI adalah a teaching process directly involving a computer in the presentation of instructional materials in an interactive mode to provide and control the individualized learning environment for each individual student.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa computer-assisted instruction (CAI) pada dasarnya merupakan perangkat lunak (software) program pembelajaran dengan media komputer sebagai alat penyampai pesannya, yang didesain sebagai sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran berbantuan komputer si belajar berhadapan dan berinteraksi langsung dengan komputer. Interaksi antara si belajar dengan komputer ini terjadi secara individual, dan komputer memang memiliki kemampuan untuk itu, sehingga apa yang dialami oleh si belajar yang satu akan berbeda dengan apa yang dialami oleh si belajar yang lain.
Dalam pembelajaran berbasis internet dapat dimanfaatkan program pembelajaran CAI atau yang lebih dikenal dengan istilah program pembelajaran berbantuan komputer Program pembelajaran CAI merupakan program pembelajaran interaktif yang di desain dengan memanfaatkan komputer sebagai penyampai pesan atau isi kepada si belajar secara individual dalam suatu proses atau lingkungan pembelajaran individual. Bentuk-bentuk program CAI yang dapat dikembangkan antara lain yaitu: drill and practice, Problem solving, simulation dan game.
Pemanfaatan program CAI dalam pembelajaran berbasis internet dapat dilakukan dengan menempatkan berbagai macam program soft ware CAI dalam sebuah server yang tersambung ke internet, sehingga dapat diakses oleh peserta didik baik melalui Web-Browser ataupun File Transport Protocol (Aplikasi Pengiriman File).
Sedang program CAI dalam pembelajaran berbasis internet merupakan salah satu jenis sumber belajar yang sengaja didesain (by desaign) yaitu sumber belajar yang dikembangkan secara khusus sebagai komponen sistem instruksional agar dapat memperlancar belajar formal dan bertujuan. Keberadaan sumber belajar dalam bentuk program CAI memungkinkan setiap subjek belajar dapat belajar secara individual, mandiri (mastery learning) sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
Pemanfaatan program CAI dalam Program Pembelajaran Berbasis Internet
Program Computer Assisted Instructional (CAI) pada dasarnya merupakan sebuah program pembelajaran yang dikemas dalam bentuk perangkat lunak (software) komputer. Peserta ajar dapat belajar dengan cara menjalankan program atau perangkat lunak tersebut di komputer. Computer Assisted Instructional (CAI) merupakan penggunaan computer sebagai mesin belajar untuk mempresentasikan berbagai macam pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri dalam upaya mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik dan juga terbatas. The Association for Education Communications and Technology (AECT, 1977) mendifinisikan computer-assisted instruction (CAI) sebagai suatu metode pembelajaran yang menggunakan komputer untuk mengajar siswa, dimana komputer tersebut berisi bahan ajar yang didesain untuk mengajar, sebagai sumber belajar, dan sebagai alat evaluasi kecakapan belajar siswa sampai level yang diinginkan dari kecakapan yang seharusnya dikuasai. Di lingkungan kita, computer-assisted instruction (CAI) juga sering disebut dengan istilah pembelajaran berbantuan komputer (PBK).
Karakteristik CAI
Untuk memudahkan belajar siswa, program CAI pada dasarnya memiliki karakteristik utama yang perlu diidentifikasikan secara teliti. Menurut Ismaniati (2001: 37), karakteristik CAI yang baik dan lengkap secara rinci harus memuat
komponen-komponen yang memudahkan belajar siswa antara lain yaitu: adanya bahan penarik perhatian, tujuan instruksional khusus (TIK), tes prasyarat, prates, uraian isi/materi, latihan, penjelasan/rambu-rambu jawaban latihan, rangkuman, pascates, dan balikan. Sedang untuk menunjang kegiatan pembelajaran siswa, pemanfaatan CAI sebagai sumber belajar dapat dikembangkan dalam beberapa bentuk program pembelajaran. Beberapa program pembelajaran CAI tersebut antara lain dapat dikembangkan dalam bentuk: tutorial, latihan dan praktek (drill and practice), simulasi (simulation), permainan (games), dan pemecahan masalah (problem solving).
Menurut Strickland Patterson seperti dikutip oleh Eva Handriyantini, S.Kom, M.MT (2009), ada lima tipe Pembelajaran Berbantuan Komputer (Computer Aided Instruction) yaitu:
1. Drill & Practice, menyajikan materi pelajaran untuk dipelajari secara berulang.
2. Tutorial, menyajikan materi yang telah diajarkan atau materi baru yang akan dipelajari.
3. Simulation, memberi kesempatan untuk enguji kemampuan pada aplikasi nyata dengan menciptakan situasi yang mengikut-sertakan siswa-siswa untuk bertindak pada situasi tersebut.
4. Problem Solving, menyajikan masalah-masalah untuk siswa menyelesaikannya berdasarkan kemampuan yang mereka peroleh.
5. Educational Games, merupakan paket software yang menciptakan kemampuan pada lingkungan permainan yang diberikan sebagai alat bantu untuk memotivasi atau membantu siswa untuk melalui prosedur permainan secara teliti untuk mengembangkan kemampuannya. Berdasarkan kriteria-kriteria ini, maka aplikasi yang dirancang penulis dapat ditentukan sebagai aplikasi educational game.
Tujuan Pemakaian Komputer dalam Proses Pembelajaran
Menurut Sidik, dkk (2008), tujuan pemakaian komputer dalam proses pembelajaran meliputi:
1. Tujuan Kognitif
Komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip, langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut secara sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk pembelajaran secara mandiri.
2. Tujuan Psikomotor
Dengan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk game dan simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja.
3. Tujuan Afektif
Bila program didesain secara tepat dengan memberikan unsur audio dan video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/ afektif pun dapat dilakukan menggunakan media komputer.
Prosedur Membuatnya
Menurut Luther seperti dikutip oleh Sutopo (2009: 8), pengembangan Pembelajaran Berbantuan Komputer berbasis multimedia meliputi tahap-tahap:
1. Konsep (Concept)
Dalam tahap ini dilakukan identifikasi perkiraan kebutuhan yang dihasilkan dari tahap pengamatan pada penelitian awal.
2. Rancangan (Design)
Dalam tahap ini dibuat desain visual tampilan screen, interface, script atau cerita, storyboard dan struktur navigasi.
3. Pengumpulan Materi (Collecting Content Material)
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan bahan seperti image, animasi , audio dan video berikut pembuatan gambar, grafik, dan lain-lain yang diperlukan untuk tahap berikutnya.
4. Perakitan (Assembly)
Dalam tahap ini dilakukan pembuatan ilustrasi, audio dan video, serta pembuatan alplikasi berdasarkan storyboard dan struktur navigasi yang berasal dari tahap design. Dalam tahap ini juga dilakukan pembuatan program.
5. Pengujian (Testing)
Dalam pengembangan multimedia perlu dilakukan testing (uji coba) setelah produksi.
6. Distribusi (Distribution)
Dalam tahap ini dilakukan pembuatan pedoman penggunaan model pembelajaran, kemasan, dan dokumentasi.
Kelebihan dan Kekurangan CAI
Kelebihan
1.Meningkatkan Interaksi
Interaksi di sini adalah aktivitas pertukaran informasi antara komputer dengan penggunanya dalam hal ini siswa. Ketika komputer menampilkan suatu pesan maka siswa harus meresponnya. Karena kerja komputer berdasarkan respon yang diberikan siswa, maka pelajaran dalam PBK terikat langsung oleh respon yang diberikan siswa.
Interaksi di sini adalah aktivitas pertukaran informasi antara komputer dengan penggunanya dalam hal ini siswa. Ketika komputer menampilkan suatu pesan maka siswa harus meresponnya. Karena kerja komputer berdasarkan respon yang diberikan siswa, maka pelajaran dalam PBK terikat langsung oleh respon yang diberikan siswa.
2. Individualisasi
Interaksi merupakan kontribusi utama dalam keefektifannya PBK, tetapi individualisasi lebih condong kepada efisiensi.
Interaksi merupakan kontribusi utama dalam keefektifannya PBK, tetapi individualisasi lebih condong kepada efisiensi.
3. Efektifitas biaya.
Salah satu alasan kuat digunakannya PBK adalah masalah administrasi, karena penggunaan pelayanan dalam PBK tidak membutuhkan kehadiran seorang guru, PBK dapat digunakan dimalam hari, hari-hari libur yang dimana biasanya guru tidak bisa hadir.
Salah satu alasan kuat digunakannya PBK adalah masalah administrasi, karena penggunaan pelayanan dalam PBK tidak membutuhkan kehadiran seorang guru, PBK dapat digunakan dimalam hari, hari-hari libur yang dimana biasanya guru tidak bisa hadir.
4. Motivasi
Banyak siswa yang menganggap bahwa PBK sangat menarik perhatian mereka, walaupun alasan ketertarikan mereka terhadap PBK sangat beragam (Clemen, 1981). Beberapa siswa menyebutkan atau mengatakan bahwa belajar dengan mesin sangat bertentangan/berbeda dengan belajar dengan guru. (Brophy, 1981).
Banyak siswa yang menganggap bahwa PBK sangat menarik perhatian mereka, walaupun alasan ketertarikan mereka terhadap PBK sangat beragam (Clemen, 1981). Beberapa siswa menyebutkan atau mengatakan bahwa belajar dengan mesin sangat bertentangan/berbeda dengan belajar dengan guru. (Brophy, 1981).
5. . Umpan balik
Umpan balik lebih cepat diterima dalam penggunaan PBK dibandingkan media lain yang sulit atau tidak bisa menerima umpan balik, jawaban siswa bisa dievaluasi dengan cepat.
Umpan balik lebih cepat diterima dalam penggunaan PBK dibandingkan media lain yang sulit atau tidak bisa menerima umpan balik, jawaban siswa bisa dievaluasi dengan cepat.
6. . Kemudahan penyimpanan data
Pelajaran-pelajaran dalam PBK diprogram secara otomatis terhadap segala aspek penyimpanan (Splittgetber, 1979). Hasil-hasil belajar dapat dicetak, nilai-nilai dapat disimpan.
Pelajaran-pelajaran dalam PBK diprogram secara otomatis terhadap segala aspek penyimpanan (Splittgetber, 1979). Hasil-hasil belajar dapat dicetak, nilai-nilai dapat disimpan.
7. Keutuhan pelajaran
Melalui PBK dapat meyakinkan bahwa topik-topik akan disajikan secara utuh.
Melalui PBK dapat meyakinkan bahwa topik-topik akan disajikan secara utuh.
8. . Kendali peserta belajar
Salah satu hal yang menarik dari siswa dan PBK adalah terjaminnya kewenangan penuh (otoritas) siswa dalam mengambil keputusan-keputusan penting selama proses instruksional untuk memperbesar hasil belajar individu (Caldwel, 1980, Reigeluth, 1979). Jadi siswa dapat menentukkan topik-topik apa saja yang ia sukai dan siswa bebas untuk memilih untuk memulai pelajaran.
9. Meningkatkan perhatian dan konsentrasi siswa.
Salah satu hal yang menarik dari siswa dan PBK adalah terjaminnya kewenangan penuh (otoritas) siswa dalam mengambil keputusan-keputusan penting selama proses instruksional untuk memperbesar hasil belajar individu (Caldwel, 1980, Reigeluth, 1979). Jadi siswa dapat menentukkan topik-topik apa saja yang ia sukai dan siswa bebas untuk memilih untuk memulai pelajaran.
9. Meningkatkan perhatian dan konsentrasi siswa.
10. Menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa.
11. Mereduksi penggunaan waktu penyampaian materi.
12. Dapat mengakomodasi banyak siswa dan menjalankan fungsinya dengan sedikit kesalahan.
13. Bersifat tanggap dan bersahabat sehingga siswa belajar tanpa tekanan psikologis.
14. Materi dapat didesain lebih menarik.
15. Tingkat kemampuan dan kecepatan belajar dapat dikontrol oleh siswa sehingga siswa dapat belajar dan berprestasi sesuai dengan kemampuannya.
16. Dapat mendorong guru untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai komputer.
Kelemahan
1. Butuh hardware khusus dan mahal
Keterbatasan terbesar dari PBK adalah membutuhkan perangkat keras yang harganya mahal dan sulit didapat.
2. Sulit Mengulang Topik
Berbeda dengan buku bacaan, pelajaran-pelajaran dalam PBK sulit diakses untuk pelajaran yang berikutnya, maksudnya bila hardware tidak tersedia, kita akan mengalami kesulitan untuk mengulang pelajaran yang sebelumnya, atau mengalami kesulitan apabila kita hendak membuatnya sebagai acuan atau referensi ketika mengaplikasikan kemampuan belajar.
3. Tergantung pada kemampuan membaca dan visual.
Untuk dapat menggunakan PBK dibutuhkan CRT (Catode Ray Tube), yang juga dikenal sebagai video display/monitor. Oleh karena itu akan sangat membutuhkan pengetahuan visual siswa, karena mayoritas isi pelajaran berupa teks ada dilayar, kemampuan membaca siswa menjadi faktor utama yang mempengaruhi efektifitas dalam pelajaran PBK
Keterbatasan terbesar dari PBK adalah membutuhkan perangkat keras yang harganya mahal dan sulit didapat.
2. Sulit Mengulang Topik
Berbeda dengan buku bacaan, pelajaran-pelajaran dalam PBK sulit diakses untuk pelajaran yang berikutnya, maksudnya bila hardware tidak tersedia, kita akan mengalami kesulitan untuk mengulang pelajaran yang sebelumnya, atau mengalami kesulitan apabila kita hendak membuatnya sebagai acuan atau referensi ketika mengaplikasikan kemampuan belajar.
3. Tergantung pada kemampuan membaca dan visual.
Untuk dapat menggunakan PBK dibutuhkan CRT (Catode Ray Tube), yang juga dikenal sebagai video display/monitor. Oleh karena itu akan sangat membutuhkan pengetahuan visual siswa, karena mayoritas isi pelajaran berupa teks ada dilayar, kemampuan membaca siswa menjadi faktor utama yang mempengaruhi efektifitas dalam pelajaran PBK
4. Grafik tidak realistik.
Dalam banyak kasus, komputer menampilkan grafik atau gambar yang terkadang tidak mewakili objek yang sebenarnya. Terbatas pada warna, kontras, dan membutuhkan waktu untuk menghasilkan suatu gambar yang berkualitas baik. Sering tidak sesuai dalam penggunaan grafik dalam PBK, beberapa sistem komputer mempunyai kemampuan resolusi yang tinggi yang dapat mengatur berbagai macam warna dan teksturnya
Dalam banyak kasus, komputer menampilkan grafik atau gambar yang terkadang tidak mewakili objek yang sebenarnya. Terbatas pada warna, kontras, dan membutuhkan waktu untuk menghasilkan suatu gambar yang berkualitas baik. Sering tidak sesuai dalam penggunaan grafik dalam PBK, beberapa sistem komputer mempunyai kemampuan resolusi yang tinggi yang dapat mengatur berbagai macam warna dan teksturnya
5. Butuh keterampilan pengembangan tambahan.
Seorang perancang PBK harus memiliki keahlian dan pengetahuan diluar kemampuan yang dibutuhkan dalam memproduksi media pembelajaran lainnya. Seorang perancang PBK harus memahami kelebihan dan kelemahan PBK dan juga harus dapat melibatkan siswa dalam proses belajar tersebut. Perancang PBK juga harus belajar untuk dapat berfikir interaktif (Show, 1985). Perancang PBK harus dapat menyeleksi bacaan yang mendukung dalam memahami cara kerja, kelebihan dan kelemahan sistem komputer, dan harus mempunyai atau memiliki kemampuan bahasa pemograman. Sebagai tambahan seorang perancang PBK harus memahami bagaimana membuat program test PBK, bagaimana mengatur dan mengevaluasi respon siswa. Dan juga kemampuan mengevaluasi keberhasilan dari pelajaran PBK tersebut.
6. Butuh waktu pengembangan yang lama
Walaupun menggunakan bahasa pemrograman komputer yang dapat mempersingkat waktu dalam memprogram pengembangan PBK, tetapi masih ada kendala lain yang membuat waktu yang lama. Proses pengembangan PBK sangat kompleks atau rumit, kita juga menggunakan suara-suara sebagai efek tambahan, dan efek suara tersebut harus sesuai dengan isi materi dan karakteristik siswa serta harus diuji coba apakah semua elemen pendukung PB
Seorang perancang PBK harus memiliki keahlian dan pengetahuan diluar kemampuan yang dibutuhkan dalam memproduksi media pembelajaran lainnya. Seorang perancang PBK harus memahami kelebihan dan kelemahan PBK dan juga harus dapat melibatkan siswa dalam proses belajar tersebut. Perancang PBK juga harus belajar untuk dapat berfikir interaktif (Show, 1985). Perancang PBK harus dapat menyeleksi bacaan yang mendukung dalam memahami cara kerja, kelebihan dan kelemahan sistem komputer, dan harus mempunyai atau memiliki kemampuan bahasa pemograman. Sebagai tambahan seorang perancang PBK harus memahami bagaimana membuat program test PBK, bagaimana mengatur dan mengevaluasi respon siswa. Dan juga kemampuan mengevaluasi keberhasilan dari pelajaran PBK tersebut.
6. Butuh waktu pengembangan yang lama
Walaupun menggunakan bahasa pemrograman komputer yang dapat mempersingkat waktu dalam memprogram pengembangan PBK, tetapi masih ada kendala lain yang membuat waktu yang lama. Proses pengembangan PBK sangat kompleks atau rumit, kita juga menggunakan suara-suara sebagai efek tambahan, dan efek suara tersebut harus sesuai dengan isi materi dan karakteristik siswa serta harus diuji coba apakah semua elemen pendukung PB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar